Maen Pukul Betawi Jurus 5 dan 6
MAEN PUKULAN BETAWI – CINGKRIK GONING JURUS 5 DAN 6
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan pengertian Maen Pukulan Betawi.
Mengetahui sejarah dan asal-usul aliran Cingkrik Goning.
Menjelaskan karakteristik jurus 5 dan jurus 6.
Mengenali teknik dasar dalam Maen Pukulan Betawi.
Menjelaskan pakaian dan perlengkapan yang digunakan.
Mempraktikkan gerakan dasar dengan tertib dan aman di bawah bimbingan guru.
Meneladani nilai-nilai luhur Maen Pukulan dalam kehidupan sehari-hari.
BAGIAN I – MATERI PEMBELAJARAN
1. Pengertian Maen Pukulan Betawi
Maen Pukulan Betawi adalah seni bela diri tradisional masyarakat Betawi yang dikenal sebagai salah satu bentuk pencak silat.
Istilah maen pukulan digunakan masyarakat Betawi untuk menyebut seni bela diri yang menggabungkan gerakan tangan, kaki, langkah, serangan, dan pertahanan.
Pada zaman dahulu, kemampuan bela diri diperlukan untuk melindungi diri dari berbagai ancaman dan menjaga keselamatan ketika bepergian.
Maen Pukulan bukan sekadar keterampilan berkelahi. Di dalamnya terdapat nilai pendidikan karakter, seperti keberanian, kedisiplinan, kesabaran, tanggung jawab, dan kerendahan hati.
Tujuan mempelajari Maen Pukulan Betawi:
- Melatih kemampuan menjaga diri.
- Meningkatkan kebugaran dan koordinasi tubuh.
- Melatih keberanian dan kepercayaan diri.
- Membentuk kedisiplinan.
- Melestarikan kebudayaan masyarakat Betawi.
2. Sejarah Maen Pukulan Betawi
Seni bela diri Betawi berkembang melalui proses pertemuan dan perpaduan kebudayaan berbagai masyarakat yang tinggal di wilayah Jakarta.
Pada masa lalu, maen pukulan menjadi keterampilan penting bagi masyarakat, termasuk untuk menjaga diri ketika menjalankan kegiatan sehari-hari.
Maen Pukulan Betawi memiliki beberapa aliran, antara lain:
Aliran | Keterangan |
|---|---|
Cingkrik | Berkembang dari Rawa Belong |
Cingkrik Goning | Pengembangan Cingkrik oleh Ki Goning |
Beksi | Salah satu aliran silat Betawi |
Sabeni | Aliran maen pukulan Betawi |
Syahbandar | Salah satu aliran bela diri tradisional |
Setiap aliran mempunyai ciri gerakan, cara latihan, dan tradisi pewarisan masing-masing.
3. Sejarah Cingkrik Goning
Cingkrik merupakan salah satu aliran maen pukulan yang berasal dari daerah Rawa Belong, Jakarta Barat.
Tokoh penting dalam sejarahnya adalah:
1. Ki Maing
Ki Maing dikenal sebagai tokoh yang menciptakan dan mengembangkan seni bela diri Cingkrik di Rawa Belong.
2. Ki Ali
Ki Ali merupakan salah satu murid Ki Maing yang meneruskan dan mengembangkan seni bela diri Cingkrik.
3. Ki Goning
Ki Goning merupakan murid Ki Ali. Ia mengembangkan gerakan Cingkrik sehingga dikenal dengan nama Cingkrik Goning.
Bagan sejarah pewarisan Cingkrik Goning
KI MAING
Tokoh pencipta CingkrikKI ALI
Murid Ki MaingKI GONING
Mengembangkan aliran Cingkrik GoningCingkrik Goning mempunyai gerakan yang dikenal lincah dan gesit. Gerakannya menggabungkan unsur menyerang dan bertahan.
Dalam bahan ajar PLBJ, Cingkrik Goning memiliki 12 jurus, dan jurus 5 serta 6 menjadi bagian yang dipelajari siswa kelas 6.
4. Mengenal Jurus 5 dan Jurus 6
Kedua jurus ini merupakan bagian dari rangkaian gerakan Cingkrik Goning. Pembelajarannya mengutamakan kemampuan mengoordinasikan gerakan tangan, kaki, dan tubuh.
Perlu diketahui bahwa dalam daftar dasar jurus Cingkrik Rawa Belong yang dipublikasikan oleh perguruan Cingkrik Goning, urutan kelima disebut Langkah 4, sedangkan urutan keenam disebut Buka Satu. Nama dan susunan gerak dapat berbeda menurut garis perguruan atau guru yang mengajarkan. Oleh karena itu, penamaan tersebut merupakan referensi daftar dasar Cingkrik, bukan klaim bahwa semua perguruan Cingkrik Goning menggunakan bentuk gerak yang persis sama.
A. Jurus 5
Jurus 5 dipelajari sebagai bagian dari rangkaian keterampilan gerak Cingkrik. Dalam pembelajaran dasar, siswa perlu memahami koordinasi langkah, keseimbangan, dan kesiapan posisi tubuh.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mempelajari gerakan:
Memulai dari sikap siap yang seimbang.
Memperhatikan arah dan perpindahan langkah kaki.
Menjaga posisi tubuh agar tidak mudah kehilangan keseimbangan.
Mengatur posisi tangan sesuai demonstrasi guru.
Melakukan gerakan secara teratur dan tidak tergesa-gesa.
B. Jurus 6
Jurus 6 merupakan kelanjutan dari rangkaian jurus sebelumnya.
Dalam pembelajaran gerak dasar, siswa harus memperhatikan perubahan posisi tubuh, koordinasi tangan dan kaki, serta kemampuan menjaga keseimbangan ketika berpindah posisi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
Mengawali gerakan dengan sikap siap.
Mengikuti perubahan arah sesuai demonstrasi.
Mengatur posisi kaki agar tubuh tetap stabil.
Mengarahkan tangan sesuai bentuk jurus yang dicontohkan guru.
Menyelesaikan gerakan dengan sikap terkendali.
Catatan penting: Ilustrasi berikut merupakan visualisasi gerakan dasar untuk membantu siswa memahami langkah dan keseimbangan. Ilustrasi bukan rekonstruksi resmi teknik Langkah 4 dan Buka Satu. Urutan gerakan asli harus mengikuti buku ajar atau demonstrasi pelatih Cingkrik Goning.
C. Ilustrasi Gerakan Dasar Jurus 5 dan 6
Perbedaan fokus pembelajaran:
Aspek | Jurus 5 | Jurus 6 |
|---|---|---|
Fokus latihan | Koordinasi langkah | Perubahan posisi |
Keterampilan | Keseimbangan kaki | Keseimbangan tubuh |
Perhatian | Arah gerak | Koordinasi tangan dan kaki |
Tujuan | Menguasai rangkaian gerak | Melanjutkan rangkaian secara terkontrol |
Untuk melihat contoh praktik dari sumber pembelajaran PLBJ, siswa dapat menyimak Video Maen Pukul Betawi Cingkrik Goning Jurus 5 dan 6.
5. Teknik Dasar Maen Pukulan Betawi
Sebelum mempraktikkan jurus 5 dan 6, siswa perlu mengenal beberapa teknik dasar.
A. Sikap awal
Sikap awal merupakan posisi tubuh sebelum melakukan gerakan.
Hal yang harus diperhatikan:
- Berdiri tegak dan tidak kaku.
- Pandangan diarahkan ke depan.
- Kedua kaki berada pada posisi yang seimbang.
- Tangan berada pada posisi siap sesuai arahan guru.
- Memperhatikan instruksi pelatih.
B. Kuda-kuda
Kuda-kuda merupakan posisi kaki yang digunakan untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Manfaat kuda-kuda:
Menjaga kestabilan tubuh.
Membantu mengatur perpindahan gerak.
Melatih kekuatan kaki.
Membantu mengontrol posisi tubuh.
C. Langkah kaki
Langkah kaki merupakan gerakan memindahkan posisi kaki ke arah tertentu.
Manfaatnya:
- Melatih kelincahan.
- Melatih koordinasi tubuh.
- Mengatur jarak.
- Membantu menjaga keseimbangan.
D. Sikap tangan
Gerakan tangan perlu dilakukan dengan terarah dan terkendali.
Hal yang diperhatikan adalah koordinasi tangan dengan perubahan posisi tubuh. Siswa tidak diperbolehkan melakukan pukulan sungguhan terhadap teman saat latihan sekolah.
E. Kelenturan dan keseimbangan
Kelenturan membantu tubuh bergerak dengan nyaman, sedangkan keseimbangan membantu tubuh tetap stabil ketika melakukan perpindahan posisi.
Keduanya sangat penting ketika mempelajari jurus 5 dan 6.
6. Pakaian dan Perlengkapan Maen Pukulan Betawi
Dalam tradisi Maen Pukulan Betawi, terdapat beberapa pakaian dan perlengkapan yang biasa digunakan.
Pakaian/perlengkapan | Keterangan |
|---|---|
Baju tikim | Pakaian tradisional untuk latihan |
Celana pangsi | Celana longgar agar leluasa bergerak |
Peci hitam | Penutup kepala |
Sarung | Biasanya disampirkan di leher |
Gelang akar | Perlengkapan tradisional pada lengan |
Sabuk | Dipakai di bagian pinggang |
Pakaian tersebut merupakan ciri tradisional yang disebutkan dalam sejumlah bahan pembelajaran. Perlengkapan bisa berbeda menurut perguruan.
7. Nilai-Nilai Luhur dalam Maen Pukulan Betawi
Maen Pukulan Betawi bukan hanya mengajarkan keterampilan fisik, tetapi juga membentuk karakter.
Berikut nilai-nilai luhur yang dapat dipelajari.
1. Keberanian
Melatih keberanian dalam menghadapi kesulitan dan kemampuan menjaga diri.
Contoh: Berani menyampaikan pendapat dengan sopan ketika berdiskusi.
2. Kedisiplinan
Melatih kepatuhan terhadap aturan dan kesungguhan dalam berlatih.
Contoh: Datang tepat waktu dan mengikuti arahan guru.
3. Kesabaran
Membiasakan diri untuk tidak mudah menyerah ketika mempelajari gerakan yang sulit.
Contoh: Mengulangi gerakan jurus 5 dan 6 sampai dapat melakukannya dengan baik.
4. Rendah hati
Tidak menyombongkan kemampuan meskipun telah menguasai suatu keterampilan.
Contoh: Tidak menggunakan kemampuan bela diri untuk merundung teman.
5. Tanggung jawab
Menggunakan kemampuan untuk tujuan baik dan tidak membahayakan orang lain.
6. Melestarikan budaya
Menjaga agar warisan budaya Betawi tetap dikenal oleh generasi muda.
7. Bijaksana dalam bertindak
Mampu mengendalikan emosi dan memilih tindakan yang tepat.
Nilai keberanian, kesabaran, kedisiplinan, kerendahan hati, dan pelestarian budaya termasuk nilai yang disebutkan dalam bahan ajar Maen Pukulan Betawi.
8. Manfaat Mempelajari Maen Pukulan Betawi
Manfaat mempelajari Maen Pukulan Betawi antara lain:
Bidang | Manfaat |
|---|---|
Kesehatan | Melatih kebugaran dan kekuatan tubuh |
Motorik | Melatih koordinasi tangan dan kaki |
Mental | Meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri |
Sosial | Mengajarkan kerja sama dan saling menghargai |
Karakter | Membentuk disiplin dan kesabaran |
Budaya | Mengenalkan dan melestarikan budaya Betawi |
9. Aturan Keselamatan Saat Berlatih
Keselamatan merupakan hal utama ketika mempraktikkan Maen Pukulan.
Siswa harus mematuhi aturan berikut:
Melakukan pemanasan sebelum latihan.
Berlatih di tempat yang aman dan tidak licin.
Menggunakan pakaian olahraga yang nyaman.
Mengikuti instruksi guru atau pelatih.
Tidak memukul, menendang, atau mencederai teman.
Tidak mencoba gerakan berbahaya tanpa pengawasan.
Menghentikan latihan ketika merasa sakit atau tidak nyaman.
Menghormati teman yang sedang berlatih.
Ingat! Ilmu bela diri digunakan untuk menjaga keselamatan, bukan untuk menyakiti orang lain.
10. Rangkuman Materi
No. | Hal yang perlu diingat | Keterangan |
|---|---|---|
1 | Nama bela diri Betawi | Maen Pukulan |
2 | Asal Cingkrik | Rawa Belong |
3 | Tokoh pencipta Cingkrik | Ki Maing |
4 | Penerus dalam silsilah | Ki Ali |
5 | Pengembang Cingkrik Goning | Ki Goning |
6 | Jumlah jurus Cingkrik Goning | 12 jurus |
7 | Materi praktik kelas 6 | Jurus 5 dan 6 |
8 | Karakter gerakan | Lincah dan gesit |
9 | Pakaian tradisional | Baju tikim dan pangsi |
10 | Tujuan utama | Bela diri dan pelestarian budaya |
BAGIAN II – 20 SOAL PILIHAN GANDA
Petunjuk pengerjaan:
Bacalah setiap soal dengan teliti. Amati gambar yang menyertainya, kemudian pilih satu jawaban yang paling tepat.
Soal dirancang untuk mengukur kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menentukan solusi berdasarkan materi.
Peta visual untuk soal nomor 1–20
Setiap nomor soal merujuk pada panel gambar yang nomornya sama di bawah ini.

Soal 1 – Analisis tujuan Maen Pukulan
Gambar 1: Praktik Maen Pukulan
Dalam sebuah kegiatan sekolah, seorang siswa memperlihatkan kemampuan Maen Pukulan kepada teman-temannya. Namun, ia kemudian menggunakan kemampuannya untuk menakut-nakuti siswa lain.
Berdasarkan nilai luhur Maen Pukulan Betawi, penilaian yang paling tepat terhadap tindakan siswa tersebut adalah ....
A. Benar karena orang yang pandai bela diri boleh menunjukkan kekuatannya.
B. Benar karena bela diri bertujuan untuk menguasai orang lain.
C. Tidak tepat karena kemampuan bela diri harus disertai pengendalian diri dan kerendahan hati.
D. Tidak masalah karena setiap orang bebas menggunakan kemampuan bela dirinya.
Soal 2 – Analisis sejarah
Gambar 2: Jejak sejarah
Seorang siswa membuat laporan tentang sejarah Maen Pukulan Betawi. Ia menemukan bahwa seni bela diri ini berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Betawi.
Kesimpulan yang paling tepat berdasarkan informasi tersebut adalah ....
A. Maen Pukulan berkembang karena masyarakat membutuhkan keterampilan menjaga diri dan mempertahankan tradisi.
B. Maen Pukulan hanya berkembang sebagai hiburan dalam pertunjukan.
C. Maen Pukulan tidak mempunyai hubungan dengan kehidupan masyarakat.
D. Maen Pukulan hanya boleh dipelajari oleh orang-orang tertentu.
Soal 3 – Analisis hubungan tokoh
Gambar 3: Rantai pewarisan
Perhatikan hubungan tokoh berikut:
Ki Maing menciptakan Cingkrik.
Ki Ali merupakan murid Ki Maing.
Ki Goning belajar kepada Ki Ali dan mengembangkan Cingkrik.
Mengapa hubungan ketiga tokoh tersebut penting dalam sejarah Cingkrik Goning?
A. Karena ketiganya berasal dari keluarga yang sama.
B. Karena ketiganya mempunyai pekerjaan yang sama.
C. Karena mereka menciptakan tiga permainan yang tidak berkaitan.
D. Karena hubungan mereka menunjukkan proses pewarisan dan pengembangan kebudayaan.
Soal 4 – Mengevaluasi jumlah jurus
Gambar 4: Dua belas jurus
Dalam sebuah kelompok belajar, siswa diminta mempelajari Cingkrik Goning yang mempunyai 12 jurus. Guru memberikan tugas untuk mempraktikkan jurus 5 dan 6.
Seorang siswa berpendapat bahwa karena hanya mempelajari dua jurus, ia tidak perlu mengetahui jurus lainnya.
Bagaimana penilaian yang paling tepat?
A. Pendapat tersebut tepat karena jurus lainnya tidak berguna.
B. Pendapat tersebut kurang tepat karena memahami keseluruhan rangkaian membantu mengetahui kedudukan jurus 5 dan 6.
C. Pendapat tersebut tepat karena setiap jurus merupakan gerakan yang sama.
D. Pendapat tersebut benar karena jurus 5 dan 6 merupakan seluruh rangkaian Cingkrik Goning.
Soal 5 – Analisis koordinasi langkah
Gambar 5: Langkah kaki
Ketika mempraktikkan gerakan dasar jurus 5, seorang siswa selalu kehilangan keseimbangan karena memindahkan kaki terlalu cepat tanpa memperhatikan posisi tubuh.
Solusi paling tepat untuk memperbaiki gerakannya adalah ....
A. Mempercepat gerakan agar lebih lincah.
B. Memperbesar ayunan tangan tanpa memperhatikan kaki.
C. Mengatur perpindahan kaki secara terkontrol sambil menjaga keseimbangan tubuh.
D. Mengurangi seluruh gerakan kaki.
Soal 6 – Mengevaluasi kuda-kuda
Gambar 6: Kuda-kuda
Ketika berlatih, seorang siswa berdiri dengan posisi kaki terlalu rapat sehingga mudah kehilangan keseimbangan saat melakukan perpindahan gerak.
Apa yang seharusnya dilakukan siswa tersebut?
A. Memperbaiki posisi kaki sesuai kuda-kuda yang diajarkan guru agar tubuh lebih stabil.
B. Memiringkan tubuh sejauh mungkin.
C. Mengangkat kedua kaki secara bersamaan.
D. Memusatkan seluruh berat badan pada satu kaki tanpa pengawasan.
Soal 7 – Penerapan nilai bela diri
Gambar 7: Sikap menjaga diri
Ketika melihat temannya diganggu oleh siswa lain, seorang siswa yang menguasai Maen Pukulan ingin segera menggunakan kemampuan bela dirinya.
Tindakan terbaik yang seharusnya dilakukan adalah ....
A. Langsung menyerang orang yang mengganggu.
B. Memamerkan jurus agar orang lain merasa takut.
C. Mengajak teman-teman untuk membalas tindakan tersebut.
D. Mengutamakan keselamatan, meminta bantuan guru, dan menghindari kekerasan.
Soal 8 – Analisis keselamatan latihan
Gambar 8: Latihan aman
Dalam latihan berpasangan, seorang siswa melakukan gerakan terlalu dekat sehingga hampir mengenai tubuh temannya.
Apa keputusan paling tepat yang harus dilakukan?
A. Melanjutkan gerakan dengan kecepatan lebih tinggi.
B. Menghentikan latihan sementara dan memperbaiki jarak serta koordinasi sesuai arahan guru.
C. Meminta temannya tidak bergerak sama sekali.
D. Mengubah latihan menjadi pertandingan.
Soal 9 – Mengenali identitas budaya
Gambar 9: Busana latihan
Seorang siswa diminta membuat pameran tentang pakaian tradisional Maen Pukulan Betawi.
Pakaian yang paling sesuai dengan materi pembelajaran adalah ....
A. Baju tikim dan celana pangsi.
B. Jas resmi dan celana panjang.
C. Seragam sekolah dan dasi.
D. Jaket olahraga dan celana jeans.
Soal 10 – Menganalisis fungsi perlengkapan
Gambar 10: Perlengkapan
Seorang siswa menggunakan celana yang sangat ketat ketika berlatih gerakan langkah kaki. Ia mengalami kesulitan saat memindahkan posisi tubuh.
Mengapa pakaian pangsi lebih sesuai untuk latihan tradisional tersebut?
A. Karena pakaian pangsi membuat gerakan menjadi lebih keras.
B. Karena pangsi digunakan sebagai alat pertahanan.
C. Karena bentuknya longgar sehingga memberikan keleluasaan bergerak.
D. Karena pangsi merupakan perlengkapan yang dapat menggantikan pemanasan.
Soal 11 – Penerapan kesetaraan
Gambar 11: Kesetaraan belajar
Dalam kegiatan pengenalan budaya Betawi, seorang siswa berpendapat bahwa Maen Pukulan hanya pantas dipelajari oleh laki-laki.
Pendapat yang paling tepat untuk menanggapi pernyataan tersebut adalah ....
A. Benar karena perempuan tidak boleh mengikuti latihan bela diri.
B. Kurang tepat karena perempuan dan laki-laki sama-sama dapat mempelajari Maen Pukulan.
C. Benar karena Maen Pukulan bukan budaya untuk semua masyarakat.
D. Tidak tepat karena Maen Pukulan hanya untuk orang dewasa.
Soal 12 – Analisis metode pembelajaran
Gambar 12: Ucapan dan praktik
Guru menjelaskan teori Maen Pukulan selama satu jam tanpa memperagakan gerakan. Siswa kemudian diminta mempraktikkan jurus 5 dan 6.
Mengapa cara pembelajaran tersebut kurang efektif?
A. Karena siswa tidak perlu memahami teori.
B. Karena praktik tidak mempunyai hubungan dengan teori.
C. Karena pembelajaran bela diri hanya membutuhkan hafalan.
D. Karena gerakan perlu dipahami melalui penjelasan dan demonstrasi atau praktik.
Soal 13 – Menerapkan kesabaran
Gambar 13: Kesabaran
Seorang siswa belum berhasil melakukan rangkaian gerakan jurus 5 dan 6 dengan benar. Ia kemudian merasa malu dan ingin berhenti belajar.
Sikap yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah ....
A. Berlatih secara bertahap dan mengulangi gerakan dengan bimbingan guru.
B. Memaksakan diri melakukan gerakan dengan cepat.
C. Menyalahkan teman yang sudah bisa.
D. Berhenti mengikuti semua kegiatan olahraga.
Soal 14 – Mengevaluasi kerendahan hati
Gambar 14: Rendah hati
Setelah mengikuti latihan selama beberapa bulan, seorang siswa mampu melakukan gerakan jurus dengan baik. Ia kemudian mengejek temannya yang belum bisa.
Bagaimana seharusnya sikap siswa tersebut?
A. Tetap mengejek agar temannya lebih giat belajar.
B. Menolak membantu teman karena merasa lebih pintar.
C. Membantu temannya dengan sabar dan tidak menyombongkan kemampuan.
D. Memamerkan keterampilannya kepada semua siswa.
Soal 15 – Menganalisis pelestarian budaya
Gambar 15: Pelestarian budaya
Di sebuah sekolah, banyak siswa lebih mengenal budaya luar daripada kesenian tradisional Betawi. Guru kemudian menyelenggarakan kegiatan pengenalan Maen Pukulan.
Mengapa kegiatan tersebut penting?
A. Agar siswa hanya mempelajari budaya Betawi.
B. Agar generasi muda mengenal, menghargai, dan ikut melestarikan warisan budaya daerah.
C. Agar siswa berhenti mempelajari kebudayaan lain.
D. Agar tradisi Betawi tidak mengalami perkembangan.
Soal 16 – Mengevaluasi tempat latihan
Gambar 16: Ruang aman
Guru akan mengadakan praktik Maen Pukulan di sekolah. Salah satu ruangan memiliki lantai licin dan banyak benda tajam di sekitarnya.
Keputusan paling tepat adalah ....
A. Tetap berlatih karena siswa sudah memahami gerakan.
B. Meminta siswa bergerak dengan sangat cepat.
C. Menggunakan ruangan tersebut tanpa mengubah keadaan.
D. Memilih dan menyiapkan tempat latihan yang aman, bersih, dan tidak licin.
Soal 17 – Menganalisis pemanasan
Gambar 17: Pemanasan
Seorang siswa langsung melakukan rangkaian jurus 5 dan 6 tanpa pemanasan. Setelah beberapa saat, otot kakinya terasa kaku.
Apa penyebab paling mungkin dari masalah tersebut?
A. Gerakan Maen Pukulan tidak memerlukan kelenturan.
B. Semua jurus hanya mengandalkan kekuatan tangan.
C. Tubuh belum dipersiapkan untuk melakukan aktivitas fisik.
D. Kuda-kuda tidak memiliki hubungan dengan kondisi otot kaki.
Soal 18 – Mengevaluasi sumber belajar
Gambar 18: Mengamati gerak
Seorang siswa ingin mempelajari teknik jurus 5 dan 6 di rumah. Ia menemukan dua video dengan gerakan yang berbeda.
Langkah terbaik yang seharusnya dilakukan adalah ....
A. Memilih video dari sumber perguruan yang relevan dan mencocokkannya dengan demonstrasi guru.
B. Meniru kedua video sekaligus tanpa memahami perbedaannya.
C. Memilih video yang gerakannya paling cepat.
D. Membuat gerakan baru berdasarkan keinginannya sendiri.
Soal 19 – Menerapkan refleksi kelompok
Gambar 19: Refleksi kelompok
Setelah kegiatan praktik, guru meminta siswa melakukan diskusi kelompok. Setiap siswa diminta menyampaikan kesulitan yang dialami selama mempelajari jurus 5 dan 6.
Apa manfaat utama kegiatan tersebut?
A. Menentukan siswa yang paling hebat.
B. Mengevaluasi hasil latihan dan menemukan cara memperbaiki gerakan bersama-sama.
C. Membandingkan kelemahan setiap siswa untuk dijadikan bahan ejekan.
D. Menghindari kegiatan praktik berikutnya.
Soal 20 – Mengevaluasi hasil pembelajaran
Gambar 20: Unjuk kerja
Dalam penilaian praktik Maen Pukulan Betawi, guru meminta siswa menampilkan jurus 5 dan 6 secara berurutan.
Seorang siswa melakukan gerakan dengan cepat, tetapi posisinya tidak seimbang dan ia tidak mengikuti urutan yang benar.
Apa penilaian yang paling tepat?
A. Sangat baik karena kecepatan merupakan satu-satunya ukuran keberhasilan.
B. Sangat baik karena siswa sudah berani tampil.
C. Baik karena tidak ada kesalahan yang perlu diperbaiki.
D. Belum optimal karena penilaian harus memperhatikan ketepatan urutan, koordinasi, keseimbangan, dan pengendalian gerak.
Kunci Jawaban
Maen Pukulan Betawi: Jurus 5 & 6
Aliran Cingkrik Goning • Modul Pembelajaran Interaktif & Bank Soal HOTS
Mengenal Seni Maen Pukulan Betawi
Masyarakat Betawi menyebut seni bela diri tradisional pencak silat dengan istilah "Maen Pukulan" atau "Maen Pukul". Seni ini diciptakan bukan untuk kesombongan, melainkan sebagai sarana membela diri, menjaga kehormatan, serta membentuk akhlak mulia berlandaskan nilai agama dan budaya.
Sejarah & Aliran Silat Betawi
Seni Maen Pukul Betawi memiliki berbagai macam aliran ternama seperti Syahbandar, Beksi, Sabeni, Kwitang, dan Cingkrik. Salah satu aliran terpopuler yang dipelajari dalam kurikulum PLBJ kelas 6 adalah Aliran Cingkrik Goning dari Rawa Belong, Jakarta Barat.
Silsilah Cingkrik Goning
- 1 Ki Maing: Tokoh legendaris pencipta awal Maen Pukulan Cingkrik dari Rawa Belong.
- 2 Ki Ali: Salah satu murid utama Ki Maing yang mewariskan ilmu Cingkrik.
- 3 Ki Goning (Ainin bin Urim): Murid Ki Ali yang mengembangkan gerakan menjadi lebih lincah & efisien (dikenal sebagai Cingkrik Goning).
Karakteristik & Ciri Gerak
Kata "Cingkrik" berasal dari Bahasa Betawi jingkrik (melompat/lincah). Cingkrik Goning terkenal memiliki 12 jurus utama dengan karakter:
Pakaian Adat Maen Pukul Betawi
Nilai Moral & Falsafah Betawi
"Shalat dan Silat: Mengaji untuk mendekatkan diri pada Tuhan, Silat untuk membela diri dan melindungi sesama."
Nilai utama yang diajarkan dalam Maen Pukul Betawi meliputi:









Tidak ada komentar